KONGRES BAHASA DAERAH 2026 DI JAYAPURA, UPAYA MENJAGA AKAR BUDAYA

Keterangan Gambar : Paduan Suara pelajar SMP di Jayapura, menyanyikan lagu-lagu daerah dalam pembukaan Kongres Bahasa Daerah 2026 di Jayapura, Senin (19/10).* (foto: kemendikdasmen)


Jayapura – indonesiapersada.id: Selama empat hari, 19 – 22 Oktober 2026, Provinsi Papua menjadi tuan rumah Kongres Bahasa Daerah 2026 bertempat di Jayapura. Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Minggu (20/10) menyebutkan, jumlah bahasa daerah di seluruh Indonesia sebanyak 718 bahasa daerah. Dan lebih dari separuhnya, yaitu 428 bahasa daerah, berada di wilayah Pulau Papua.

Wakil Gubernur Provinsi Papua, Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, yang hadir dalam pembukaan Kongres tersebut, Senin (19/10) menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Papua dalam mendukung pelindungan, pelestarian, dan pengembangan bahasa daerah sebagai bagian penting dari warisan budaya bangsa. Dengan kekayaan bahasa daerah yang dimiliki, Aryoko menyebut Papua memiliki anugerah sekaligus tanggung jawab besar guna memastikan bahasa-bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh masyarakat.

“Melalui kongres ini, kami berharap akan lahir langkah-langkah strategis dan konkret untuk memperkuat pelindungan bahasa daerah. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan koordinasi, menyusun program pelestarian yang berkelanjutan, serta mendorong penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan keluarga, pendidikan, kegiatan adat, dan ruang publik sesuai konteksnya,” tutur Aryoko.

Bagi Pemerintah Provinsi Papua, upaya pelestarian bahasa daerah yang dilakukan oleh Kemendikdasmen sangat sejalan dengan visi pembangunan Papua yang cerdas, sejahtera, dan harmonis. Papua yang cerdas tidak hanya diwujudkan melalui peningkatan pengetahuan dan penguasaan teknologi, tetapi juga melalui pemahaman terhadap akar budaya.

“Kami ingin memastikan generasi muda dapat berkembang, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun global tanpa kehilangan jati diri. Penguasaan bahasa asing dan kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap bahasa ibu, penghormatan terhadap adat, dan penghargaan terhadap kebudayaan daerah,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Hafidz Muksin, dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa Pemilihan Papua sebagai lokasi penyelenggaraan memiliki makna penting karena Papua merupakan wilayah dengan keragaman bahasa daerah yang paling tinggi di Indonesia. Kegiatan ini melibatkan 200 orang peserta meliputi unsur pemerintah pusat dan pemerintah daerah, pengambil kebijakan, akademisi, peneliti bahasa, pendidik, budayawan, sastrawan, tokoh adat, komunitas bahasa, Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP), serta generasi muda.*(rit’z)

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.