KISAH MUSA LOKOBAL, BURUH TUNA WICARA DALAM RENOVASI BANGUNAN SMAN 2 JAYAPURA

Keterangan Gambar : Musa Lokobal penyandang tuna wicara salah satu pekerja bangunan revitalisasi bangunan SMAN 2 Jayapura memberikan gestur hormat kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, Senin (19/10) saat Abdul Mu’ti berkunjung melihat proses revitalisasi pembangunan SMAN 2 Jayapura senilai Rp 2 M dari Kemendikdasmen. *(foto: kemendikdasmen)


Jayapura – indonesiapersada.id: Melalui bahasa isyarat, Musa Lokobal menyampaikan rasa terima kasih kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat berkunjung ke SMAN 2 Jayapura, Senin (19/10). Musa merupakan salah satu pekerja yang terlibat dalam Program Revitalisasi Satuan Pendidikan di sekolah tersebut. Baginya, kesempatan bekerja tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh seorang guru, Musa mengungkapkan rasa syukurnya kepada Mendikdasmen Abdul Mu’ti dan pihak sekolah yang telah memberinya kesempatan bekerja.

“Karena pekerjaan ini sekarang kami berpenghasilan dan membantu perekonomian keluarga kami,” demikian pesan Musa yang diakhiri dengan gestur hormat.

Mendengar ungkapan tersebut, Mendikdasmen Abdul Mu’ti merespons hangat dan memberikan semangat kepada Musa.

“Terima kasih Musa. Jaga kesehatan dan terus semangat bekerja,” ucapnya.

Percakapan singkat itu menjadi momen yang memperlihatkan bahwa perhatian dan kesempatan dapat begitu berarti bagi seseorang.

Di balik pembangunan dan rehabilitasi ruang kelas di SMAN 2 Jayapura, tersimpan kisah tentang harapan dan kesempatan bagi mereka yang ikut menjadi bagian dari program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Musa Lokobal menjadi bukti bagiamana program ini tidak hanya membangun sarana dan prasarana sekolah, namun juga menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar sekolah.

Pelaksana Tugas (Plt.) SMAN 2 Jayapura, Lea Ansanay, mengungkapkan bahwa tahun ini sekolahnya menerima bantuan revitalisasi senilai lebih dari Rp2 miliar. Melalui proses optimalisasi anggaran, akhirnya perbaikan sekolah mencakup ruang yang lebih luas, yakni pembangunan tiga ruang kelas baru, rehabilitasi empat ruang kelas, serta pengembangan lantai dua untuk tiga ruang kelas.

”Puji tuhan kami merasa terharu, pekerjaan revitalisasi ini kami dapat membantu dan membuka pekerjaan bagi masyarakat sekitar yang sebagian besar asli Papua. Musa Lokobal dan buruh lainnya sangat terbantu mendapatkan penghasilan dari pekerjaan ini,” papar Lea.

Momen pertemuan Musa dan Mendikdasmen mengingatkan bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya tentang memperbaiki gedung, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi manusia, membuka kesempatan kerja, dan memberi ruang bagi setiap orang untuk terus berdaya.*(rit’z)

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.