
Keterangan Gambar : Siti Atikoh Suprianti, istri calon presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo, berdialog dan mendengarkan aspirasi milenial dan gen-Z Blitar di halaman Makam Bung Karno (MBK) Kota Blitar Jawa Timur, Jum’at (26/1/2024). Keluhan yang mengemuka antara lain beasiswa yang kurang tepat sasaran dan pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan. Dalam kegiatan ini, Atikoh didampingi Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Blitar dr. Syahrul Alim. (foto: tpn ganjar mahfud)
ATIKOH DENGAR ASPIRASI MILENIAL - GEN-Z BLITAR SOAL PENDIDIKAN HINGGA NASIONALISME
Oleh: Pimred Berita Indonesia Live (BILive) Aan Kasianto, Editor: Rita Zoelkarnaen
indonesiapersada.id – Blitar, Jatim: Siti Atikoh Suprianti, istri calon Presiden RI Ganjar Pranowo bertemu milenial dan Gen-Z Kota Blitar di halaman makam Bung Karno, Jumat (26/1/2024). Atikoh menampung sejumlah aspirasi dari mereka, di antaranya beasiswa yang tak tepat sasaran, hingga terkait pentingnya pendidikan bagi perempuan.
"Hari ini, saya dialog dengan masyarakat, terutama generasi muda di Blitar. Kami menerima banyak aspirasi dari mereka," kata Atikoh.
Ia mengatakan, salah satu aspirasi yang dia terima terkait bantuan beasiswa. Keluhan tersebut disampaikan seorang pelajar dari SMAN 1 Blitar. Hal tersebut seperti dilaporkan Pimred Berita Indonesia Live (BILive) Aan Kasianto kepada redaksi www.indonesiapersada.id, Sabtu (27/1/2024).
"Memang dari segi pendataan harus benar - benar dicek lagi, sehingga anak - anak yang berasal dari keluarga tidak mampu benar - benar bisa mendapatkan manfaat untuk mengakses beasiswa pendidikan," ujarnya.
Atikoh menuturkan, ke depan perlu ada program KTP Sakti untuk meminimalisir terjadinya kesalahan data penerima bantuan, karena bisa di-update secara terus menerus.
"Kemudian penggunaannya (KTP Sakti - red) terintergrasi dalam segala hal, semua datanya ada di situ. Baik itu untuk penerima program kesehatan, pendidikan maupun bansos. Cukup (data - red) satu kartu, bisa mengatasi semuanya," jelas Atikoh.
Selain itu, dia berpesan agar anak muda terus menggaungkan semangat nasionalisme. Hal ini agar kebhinekaan Indonesia tetap terjaga.
“Itu kenapa pekik merdeka, salam Pancasila, itu bukan hanya sekadar omongan, tapi kita juga diingatkan bahwa nasionalisme juga penting sekali. Sehingga tidak ada masalah intoleransi, kebhinekaannya terjaga, kegotongroyongannya juga seperti itu. Kita semua bisa menjaga hubungan baik dengan sesama,” tuturnya.
Atikoh mengatakan, kegiatan turun ke masyarakat seperti ini membuatnya mendapat wawasan yang lebih luas tentang Indonesia. Ia bisa mengetahui masalah yang dirasakan masyarakat secara langsung.
“Jadi permasalahan riil masyarakat hari ini apa sebenarnya. Saya bisa gambarkan seluruh yang ada di Jawa Timur, Yogya, Sumatera, NTT, dan lain sebagainya,” tandasnya.* (aan)
Facebook Comments