Wisuda 262 Taruna Taruni STMKG, Ini Pesan Kepala BMKG

editor : rahadio

indonesiapersada.id I JAKARTA  -  Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) menggelar wisuda taruna taruni secara daring. Dalam wisuda kali ini, STMKG meluluskan 262 orang taruna taruni. 

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan tantangan alam yang dikelola BMKG sebagai satu-satunya organisasi pemerintah yang menyelenggarakan urusan bidang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika semakin kompleks, ekstrem dan tidak pasti. Karenanya, Ia meminta kepada seluruh lulusan STMKG untuk terus bekerja keras dan gigih dengan berinovasi dan menciptakan terobosan-terobosan sesuai dengan tantangan di lapangan. 

“Jangan berhenti belajar, terutama mengenai Bidang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, serta segala hal terkait Teknologi Digital dan Komunikasi ataupun berbagai aspek Social Engineering. Pemahaman dan kepedulian terhadap pentingnya sinergi lintas disiplin/lintas sektoral harus  selalu menjiwai langkah operasional BMKG. Lembaga ini sangat  membutuhkan semangat muda untuk terus belajar dan berinovasi. Dengan belajar itulah, jangan malu bertanya ataupun takut gagal, justru belajar itu mengasah kita untuk semakin tajam dalam membuat terobosan dan inovasi untuk solusi berbagai pernasalahan dan tantangan. Terobosan dan inovasi sering tidak mengikuti tradisi. Tapi sangat dibutuhkan,” ungkap Dwikorita saat acara wisuda STMKG di Jakarta, Kamis (18/11). 

Dwikorita mengatakan, saat ini BMKG sendiri terus berupaya melakukan inovasi teknologi dan juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) agar risiko kejadian multi bencana geo-hidrometeorologi bisa semakin ditekan. Realitas yang terjadi di Indonesia saat ini, ungkap Dwikorita, tidak lepas dari fenomena cuaca, iklim, dan tektonik di Indonesia yang semakin dinamis, kompleks, tidak pasti dan ekstrem. Indonesia sendiri berada dalam kepungan lempeng-lempeng tektonik aktif dan dikelilingi oleh cincin api. Fenomena iklim dan cuaca di Indonesia sebagai benua maritim juga kompleks dan dinamis, karena terletak di  persilangan dua benua dan dua samudra, yang juga dipengaruhi oleh perubahan iklim global. 

"Kami harus terus melakukan lompatan-lompatan agar handal dalam mengantisipasi berbagai tantangan kompleksitas tersebut. Ini bagian dari cara BMKG mewujudkan zero victims atau mencegah jatuhnya korban. Karenanya kami (BMKG-red) ingin para lulusan STMKG bisa menciptakan terobosan dan inovasi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya,” imbuhnya.  

Dalam kesempatan tersebut, Dwikorita meminta para lulusan STMKG untuk terus setia kepada negara setelah mengucapkan ikrar, di antaranya adalah mau ditempatkan di daerah mana saja di wilayah Nusantara ini, tanpa ada perasaan berat hati. Menurutnya, meski tidak ditempatkan di daerah yang diinginkan, namun harus tetap semangat dan berdedikasi dalam bekerja. Di situlah peluang besar untuk mencetak mental,  kegigihan, dan ketangguhan  kita dalam menaklukkan tantangan, dan sekaligus mengasah daya analitik intelektual dan spiritual kita dalam mengatasi berbagai persoalan di lapangan, bahkan juga memberikan peluang untuk mengasah daya terobosan dan inovasi. 

Ia mencontohkan sosok Dr A.Fachri Radjab, S.Si., M.Si. yang telah ditempatkan di bandara El Tari, Kupang, selama 6 tahun di Kupang. Padahal beliau lahir di Jakarta. Dan beliau tetap  menjalani ikhlas, tidak menggunakan berbagai siasat untuk menghindari penempatan. Kini, ia telah menjabat sebagai Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, usai menempuh pendidikan di STMKG dan ditempatkan di bandara El Tari, Kupang, sebab ia memiliki kompetensi dibandingkan yang lain. 

Kemudian Kepala Bagian Pengadaan dan BMN Fransin Adriana Patinama juga dicontohkan oleh Dwikorita sebagai sosok yang mengabdi. Meskipun perempuan, namun Fransin Adriana tidak pernah meminta penempatan khusus. Ia tinggal di Ambon, namun pernah ditempatkan di Makassar, Bali dan Jakarta. Bahkan juga selalu jauh dari keluarga, namun pada akhirnya, ketekunan kemampuan dan integritas yang kuat disertai kecerdasan hati dan lapangan, yang membuat ditempatkan di posisi strategis. 

Sementara itu, Ketua Sekolah Tinggi STMKG Dr. I Nyoman Sukanta, S.Si, M.T. menyebutkan laporan pendidikan program sarjana terapan STMKG tahun ajaran 2020-2021 menyebutkan bahwa ujian akhir angkatan 2017 telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2021. Kelulusan Diploma IV semester genap terbagi atas rincian Program Studi Meteorologi sebanyak 69 taruna. 

Kemudian Program Studi Klimatologi sebanyak 37 taruna. Selanjutnya, Program Studi Geofisika sebanyak 31 taruna dan sebanyak 125 taruna dari Program Studi Instumentasi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (MKG). Pada Program Studi Meteorologi taruna Dendi Rona Purnama menjadi lulusan terbaik peringkat satu dengan IPK 3,76. 

Selanjutnya pada program studi Klimatologi taruni Aberta meraih IPK tertinggi dengan nilai 3,69. Kemudian, program studi Geofisika taruna Akmal Frimansyah mendapat peringkat tertinggi dengan nilai IPK 3,72 dan pada program studi Instrumentasi MKG peringkat satu ditempati dua siswa yaitu Nurfahmi Rahman dan Wandes Gumaven dengan nilai 3,69. (*) 

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.