
Keterangan Gambar : Tiga narasumber di Webinar Nasional World Radio Day 2026 menyampaikan bahwa LPPL Radio dan TV tetap relevan di era kecerdasan buatan yang berkembang pesat.* (foto: dok)
CATATAN DARI WEBINAR NASIONAL WORLD RADIO DAY 2026
AI Bukan Pengganti Pelaku Penyiaran, Tapi Alat untuk Menguatkan Peran LPPL sebagai Media Informasi di Daerah
Jakarta – indonesiapersada.id: Radio dan TV Publik Lokal atau Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) tetap relevan di era digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Hal tersebut yang mengemuka dalam Webinar Nasional World Radio Day 2026 dengan tema Radio and AI, LPPL dan Integrasi Multiplatform, Rabu (19/2/2026).
Webinar Nasional World Radio Day 2026 diselenggarakan secara daring oleh Persatuan Radio TV Publik Daerah Seluruh Indonesia (INDONESIA PERSADA.ID), disiarkan live melalui link Youtube Program TV Tabalong dan disiarkan serentak oleh 72 LPPL Radio dan TV dari seluruh Indonesia anggota INDONESIAPERSADA.ID.
Tiga narasumber yang hadir membahas strategi agar Radio dan TV Publik Lokal dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Terutama dalam memanfaatkan AI, bahwa AI adalah alat dalam dunia penyiaran bukan sebagai pengganti pelaku penyiaran. Dalam prakteknya berupa kemampuan melakukan integrasi multiplatform dalam pelaksanaan siaran sehari-hari yang menghubungkan radio, tv dan media sosial sehingga mampu memperluas jangkauan siaran.
Hal tersebut seperti disampaikan salah satu narasumber, broadcaster senior yang juga dosen komunikasi Universitas Terbuka, Dian Budiargo.
“AI bukan ancaman karena AI itu adalah alat yang dapat dimanfaatkan oleh insan penyiaran radio maupun tv publik lokal dalam meningkatkan kulitas program dan menjalankan program siaran,” terang Dian.
Lebih lanjut Dian menjelaskan bahwa radio dan TV publik lokal dituntut mengikuti perkembangan zaman agar mempertahankan eksistensi. Dunia broadcasting di era digital tidak hanya bertahan, namun harus beradaptasi, berkembang dan memimpin perubahan di daerah.
“Ada konsep yang perlu ditekankan untuk dilakukan oleh radio dan tv publik lokal sebagai kunci agar bisa tetap eksis, yaitu konsep adapting, evolving, dan leading,” pungkas Dian.
Sementara itu narasumber dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nursodik Gunarjo Direktur Informasi Publik Ditjen Komunikasi Publik dan Media, menyampaikan bahwa radio dan tv publik lokal di Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis sebagai benteng mis-informasi di daerah.
“Radio masih menjadi sumber informasi terpercaya dan sebagai benteng mis-informasi di daerah, apalagi jika ditunjang kemampuan radio dan tv publik lokal melakukan integrasi multiplatform dengan media sosial yang sangat penting untuk memperluas jangkauan informasi,” ungkap Mas Gun, panggilan akrab Nursodik Gunarjo.
Hal senada juga disampaikan Direktur Utama LPPL Tabalong, Muhammad Rais, yang memaparkan tentang praktek integrasi multiplatform di LPPL Tabalong. Rais menegaskan, media sosial menjadi sarana strategis untuk memperluas jangkauan siaran bagi LPPL radio dan TV Tabalong, melalui program unggulan Radio on TV.* (tim redaksi lppl tabalong)
_rev1.jpg)


Facebook Comments