Kajian Precursor Sebagai Bagian Proses Prediksi Gempabumi di BMKG

Keterangan Gambar : Kajian Precursor Sebagai Bagian Proses Prediksi Gempabumi di BMKG


editor : Rahadio

indonesiapersada.id I jakarta - Berbagai macam upaya sudah dilakukan dalam usaha mengurangi korban akibat bencana gempabumi. Salah satu bentuk implementasinya yaitu berupa  langkah preventif dalam bentuk kajian prediksi gempabumi sudah banyak dilakukan oleh para pakar kegempaan di dunia. Dalam kajian informasi awal sebelum kejadian gempabumi ada 2 istilah, yaitu prediksi gempabumi dan prekursor gempabumi. Prediksi gempabumi merupakan kajian untuk menjawab penyediaan informasi parameter gempabumi saat belum terjadi gempabumi, yang meliputi kapan gempabumi akan terjadi (aspek waktu), lokasi pusat gempa dan parameter sumber dan mekanisme sumber gempabumi.  Sedangkan yang disebut prekursor gempabumi adalah kajian/riset yang mempelajari perubahan fisis yang terjadi di alam, yang dapat dijadikan sebagai petunjuk awal sebelum kejadian gempabumi.

BMKG sebagai instansi yang mempunyai tanggungjawab penuh dari aspek informasi gempabumi, selain melakukan tugas dan fungsi monitoring, pengelolaan dan diseminasi juga melakukan tahapan riset yang dimulai dari lingkup riset yg bersifat internal serta lingkup para pakar, dan riset yang langsung publish untuk langsung dimanfaatkan oleh publik. BMKG melaksanakan riset semenjak periode tahun 1980 dan mengembangkan melalui berbagai metoda dan pemasangan peralatan, seperti antara lain metoda statistik, metoda seismic gap dari data-data gempabumi yang telah lalu, metoda dengan data Radon, metoda dengan data suhu tanah, metoda dengan data magnet bumi, dan metoda dengan data TEC (Total Electron Content). Dari berbagai riset dan pengembangan oleh BMKG tersebut, yang cukup menjanjikan adalah metoda dengan data magnet bumi atau BMKG menyebut dengan Precursor Gempabumi dengan metode magnet bumi.

Metoda precursor gempabumi dengan metode magnet bumi mulai dikembangkan tahun 2011, bekerja sama dengan Universitas Kyushu Jepang, mulai merancang kegiatan. Dan tahun 2012, Universitas Kyushu Jepang memasang Fluxgate Geomagnet di 3 lokasi di Pulau Sumatera. Dan selanjutnya.  Tahun 2014 parameter Prekursor gempa bumi dibuat dengan tiga parameter yaitu, Kapan?, Dimana ? dan Berapa Kuat Potensi nya? Mulai tahun 2016 BMKG mulai melakukan kajian rutin dan terukur. Tahun 2017  menambah peralatan pemantau magnet bumi (Fluxgate geomagnet) untuk precursor gempabumi. BMKG juga telah berhasil menganalisis precursor gempabumi dengan metode magnet bumi yang menghasilkan : Kapan gempabumi akan terjadi, dengan range 1 – 30 hari ke depan. Dimana area gempa bumi akan terjadi dengan  area duga aktif yang terbatas (tidak luas). Dan Berapa besar kekuatan gempabumi (magnitudo) akan terjadi. Analisis dan laporan precursor dibuat mingguan, tetapi informasinya masih terbatas untuk internal BMKG dikarenakan tingkat akurasinya untuk gempa besar masih kurang baik sedangkan untuk gempa dengan magnitudo sekitar 5 mulai ada peningkatan akurasi. Metoda ini terus dikembangkan dan sampai sekarang terus dimonitor dan dievaluasi tingkat akurasinya. 

Sistem prakiraan (precursor) gempabumi ini lebih dahulu dan lebih maju bila dibandingkan dengan sistem yg dikembangkan oleh beberapa lembaga riset karena dalam prediksi gempa dengan metoda magnet prekursor ini tidak hanya durasi waktunya yg dibatasi, namun juga area yg diduga akan terjadi gempa juga dibatasi. Parameter Prekursor Gempa yang di kembangkan oleh BMKG sebagai berikut
1.Kapan?,  yaitu Rentang Waktu Potensi Gempa akan Release (< 1 bulan), yang dihitung dari awal anomali muncul  sampai 1 bulan kedepan.
2.Dimana?, yaitu Zona Duga Aktif Gempa yaitu  potensi Zona Duga Aktif gempa dengan mempertimbangkan sumber gempa baik zona subduksi maupun zona sesar permukaan, sehingga area prediksi semakin dapat di cluster.
3.Berapa Kuat?, yaitu Prediksi Potensi Magnitudo Gempabumi.

Saat ini prekursor yg dikembangkan oleh BMKG belum mampu secara baik/akurat untuk gempa gempa dengan magnitudo/kekuatan yang besar M>6.5. Tetapi untuk gempa bumi dengan magnitudo M=5  -  M=6 tingkat akurasi prekursor gempabumi dengan metoda magnet bumi yang dikembangkan BMKG, akurasinya cukup baik, yaitu sekitar 60 %-70 %, apalagi kalau magnitudonya lebih kecil dari M=5 akurasinya sampai diatas 80%-90%

Karena sebagian besar gempa-gempa dengan magnitudo 5 ini tdk berdampak merusak atau bahkan tidak berdampak dirasakan, maka BMKG terus mengembangkan agar prekursor ini mampu untuk memperkirakan gempa-gempa dengan magnitude diatas 6. Dan juga akan mengembangkan precursor gempabumi ini dengan menyatukan berbagai metode untuk memkonfirmasi parameter prekursor gempa yang telah dikembangkan yaitu Seismic Vp/Vs, histori gempa, Radon, suhu tanah, dan TEC (Total Electron Content). Mulai tahun 2021 ini riset bersama dilakukan bekerja sama  BMKG dan LIPI dalam riset bersama untuk kajian prekursor gempabumi  yang memfokuskan pada potensi gempa-gempa merusak. Dari hasil kajian sebelumnya yang telah dilakukan oleh BMKG maka untuk data Radon, suhu air tanah  memiliki karakteristik yang mampu memantau anomali < 100 km (sangat lokal),  ini efektif jika dipasang dekat dengan sesar aktif permukaan. Sedang untuk TEC memiliki wilayah anomali yang sangat luas, maka metode tersebut cocok untuk konfirmasi data dari parameter prekursor gempa dari magnet bumi.

BMKG sangat mengapresiasi para pakar dan lembaga riset untuk mengembangkan kajian prediksi gempabumi, seperti yang dikembangkan oleh beberapa Perguruan Tinggi. BMKG berharap apa yg dilakukan perguruan Tinggi dan lembaga riset terus meningkatkan dan mengembangkan metoda dan analisis datanya, dengan batasan magnitudo yang besar dan area yang sempit kalau batasannya area yang sangat luas dengan magnitudo yang kecil tentunya metoda ini masih sangat lemah jika dipandang dari segi ilmiahnya. Karena batasan magnitudo yg diprediksi mulai dari magnitudo M=4.5 keatas dan zona yang diprediksi sangat luas. Dari Aceh sampai NTT, dengan hanya menggunakan data Radon yang terpasang di Yogjakarta, karena radius gas Radon sangat terbatas. Seperti kita ketahui bahwa untuk gempa gempa dengan magnitudo M=4.5, setiap hari terjadi di wilayah Indonesia dan kekuatan gempa ini tidak berdampak merusak atau sebagian besar malah tidak dirasakan oleh masyarakat, sehingga tanpa adanya anomali Radon pun setiap hari pasti terjadi gempa dengan magnitudo kecil-kecil ini. Kalaupun alat yg dikembangkan ini batasan minimal magnitudonya M4.5,  BMKG berharap areanya dapat dibatasi pada zona tertentu misalnya akan terjadi gempa dalam 3 hari kedepan pada wilayah yogya atau jateng, sesuai jangkauan radius gas Radonnya itu sendiri. Tidak seperti yg saat ini dilakukan wilayahnya dari Aceh sampai NTT apalagi sampai Papua, sebuah wilayah yg sangat luas untuk kepastian terjadinya gempa. (de)
 

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.