Implementasi Dari Upaya Mencegah Munculnya Varian Baru Covid-19 di Indonesia
LAPORAN KHUSUS BERITA INDONESIA LIVE : Rabu – 4 Agustus 2021
Oleh : Aan Kasiyanto
Indonesiapersada.id Jakarta - Untuk meredam angka penularan covid-19 dan menghindari kemungkinan munculnya varian baru, selain terus menggalakkan penerapan protokol kesehatan, pemerintah juga mempercepat vaksinasi nasional untuk mencapai herd immunity atau kekebalan komunal.
Pemerintah juga berkomitmen meningkatkan penguatan testing dan tracing, terutama di permukiman padat penduduk, dengan target 300 ribu hingga 500 ribu testing per hari.
Menurut Kasubbid Tracing Satgas Covid-19 Koesmedi Priharto, Hingga awal Agustus varian Delta sudah ditemukan kurang lebih ada di 22 provinsi, dan kasus positif hampir 76% didominasi oleh varian Delta.
Pada prinsipnya Covid 19 adalah self-limiting disease, atau penyakit yang dapat sembuh sendiri. Seperti penyakit akibat virus lainnya, self-limiting disease umumnya bisa sembuh bila pasien memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik.
Vaksinasi, lanjut Koesmedi Priharto, adalah untuk menciptakan kekebalan tubuh menjadi baik dan menimbulkan antibodi, agar virus dalam tubuh tidak bisa meluas ke mana-mana.
Koesmedi pada “ Dialog Produktif Rabu Utama” implementasi dari upaya mencegah munculnya varian baru covid-19 di Indonesia, Rabu (4/8-2021) juga mengingatkan, Sarcov Dua bersifat head to head, menular antara manusia dengan manusia, beda dengan Sarcov Satu, Flu burung, misalnya perantaranya burung ditularkan kepada manusia. Sehingga ketika media perntaranya dimusnahkan maka virus tidak akan terjadi penularan.
Kata Koesmedi, berbeda dengan Sarcov Dua, yang menular antara manusia dengan manusia, dan tidak mungkin memusnahkan media penularannya, dengan perkataan lain, head-to-head penyakit ini adalah penyakit perilaku manusia.
“ yang paling penting saya ingatkan pada masyarakat bahwa virus ini head to head ia menular antara manusia dengan manusia berbeda dengan virus-virus yang lain, flu burung dia lewat burung dulu baru menular ke manusia sehingga ketika media antaranya ini bisa dimusnahkan maka virus itu tidak akan menular, kalau sarcov dua itu adalah head to head manusianya kan tidak mungkin kita hilangkan, nah yang perlu kita sadari adalah bahwa dengan head to head itu berarti penyakit-penyakit perilaku manusia,” Jelas Koesmedi Priharto.
Menurutnya, ketika manusia disiplin terhadap protokol kesehatan, penularan akan menurun dan sebaliknya, jika bersikap abai, akan meningkatkan penularan.
Dialog virtual yang dipandu Meliza Gilbert juga menghadirkan, pelaksana tugas Direktur RSUD Haji Muhammad Parikesit Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, Lina Julianti dan Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia -IAKMI- Edi Surya Darmawan.
Konon, Covid 19 varian Delta, juga ditemukan di Kalimantan Timur, namun menurut Lina Julianti dari sampel-sampel yang dikirimkan, Balitbang Kes Kutai Kartanegara belum pernah merilis adanya varian Delta, namun jika melihat penularan yang sangat massive dan meningkatnya derajat sakit penderita Covid 19, ditengarai Covid 19 varian Delta, sudah ada di Kabupaten Kutai Kartanegara.(@Ng).
_rev1.jpg)



Facebook Comments