BICARA MENTAL HEALTH

Keterangan Gambar : TemanBersama.id adalah program kesehatan mental dari Yayasan Nalar Naluri Nurani. Percayalah bahwa tidak ada yang harus berjuang sendirian. Di sini, setiap cerita didengar, setiap perasaan dihargai.


Bicara mental health dengan adik-adik peer counseling yang tergabung dalam TemanBersama.id sungguh asik. Mereka berkisah tentang kiprah setahun belakangan. Melakukan pendampingan dan memetakan   sikon mental health di Indonesia.

 

Tampaknya problem mental health tak bisa diremehkan. Diantaranya yang substantif adalah "krisis makna eksistensi diri". Penandanya adalah lelah tanpa sebab jelas, hampa walau berhasil, dan kehilangan arah masa depan. Terutama pada Gen Y dan Gen Z serta Gen Alpa yang akrab dengan medsos, banyak yang merasa tertinggal dalam gaya hidup dan finansial dari orang lain di layar medsos. Hal ini lebih diperparah dengan tren pamer kekayaan (flexing) sebagian influencer dan pesohor, yang standarnya beda dengan masyarakat luas. Begitu juga dengan  "tekanan ekonomi dan jebakan judi online", menyebabkan kerusakan mental yang sistemik. Mulai dari gangguan tidur hingga depresi berat yang berujung bunuh diri.

 

Adalah perspektif "Structural and Political Mental Health" yang mencoba menjelaskan, bahwa gangguan mental bukan karena kegagalan individu. Tapi, lebih sebagai produk struktur sosial-ekonomi-politik. Pemicunya adalah disparitas ekonomi, kebijakan yang abai pada rekognisi dan dignity, tekanan produktivitas, dan penyingkiran sosial. Berhal demikian, maka depresi dan kecemasan menjadi sebuah keniscayaan.

 

Sedangkan perspektif "algorithmic mental health", menekankan betapa mental health menjadi rusak akibat emosi - atensi - identitas telah dijadikan sumber eksploitasi. Gejalanya berupa burn out, fear of missing out, fear of being irrelevant, dan depresi kinerja. Problem dasarnya tak semata screen time, tapi logika algoritmik yang memerintah emosi.

 

Singkat kata, krisis mental health bukan semata problem personal. Tapi juga problem struktural. Oleh sebab itu, krisis   mental health masa kini adalah krisis dalam cara kita mengatur kerja, teknologi, dan kehidupan.  Bukan krisis daya tahan individual.

 

Risiko terburuk jika krisis mental health tak segera ditangani, adalah runtuhnya kemampuan kolektif negara-bangsa untuk bertahan sebagai  komunitas politik. Lebih parah lagi jika krisis mental health menghantam Gen Y, Gen Z, dan Gen Alpa, maka mereka tak akan memiliki resiliensi kognitif untuk memecahkan masalah yang melingkupinya di masa depan. Artinya, negara-bangsa ke depan bisa kehilangan kreativitas dan inovasi, daya saing, dan kebersamaan. Nah !????????
 
Ditulis oleh 
Haryadi,Drs., M.Si.

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.