
Keterangan Gambar : Kantor Dinas Kominfo Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh yang menjadi lokasi studio LPPL Radio Suloh Tamiang, suasana tampak depan setelah enam bulan pasca bencana banjir bandang.* (foto: dok)
KEBANGKITAN LPPL RADIO SULOH TAMIANG USAI DITERJANG BANJIR BANDANG
Aceh Tamiang, Aceh – indonesiapersada.id: Banjir bandang yang menerjang Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat pada November 2025 lalu, meluluhlantakkan 53 kabupaten/kota di tiga provinsi tersebut. Mengutip Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdatin BNPB), sedikitnya 1.200 fasilitas umum dan 175.000 unit rumah rusak parah.
Salah satunya adalah LPPL Radio Suloh Tamiang FM Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh. Menempati lantai dua Dinas Kominfo setempat, studio radio publik lokal kebanggaan warga masyarakat Aceh Tamiang terendam lumpur tak menyisakan satu alat pun. Tower triangle yang menyangga antena tumbang dan antena radio yang bisa diselamatkan hanya tersisa 1 bay. Situasi tersebut dengan sendirinya membuat Radio Suloh Tamiang berhenti beroperasi. Belum lagi rumah para crew radio juga terdampak, bahkan kediaman dua crew terendam banjir setinggi bubungan rumah. Kondisi yang otomatis berakibat operasi Radio Suloh Tamiang lumpuh total.
“Saat ini, setelah enam bulan berselang pasca banjir, kami berusaha bangkit, menghidupkan kembali Radio Suloh Tamiang dengan peralatan seadanya,” kata Manajer Operasional Radio Suloh Tamiang, Dedi Hakim, berkabar kepada redaksi https://indonesiapersada.id melalui pesan whatsapp pada 2 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional.
Upaya tangan dingin Dedi Hakim untuk menghidupkan kembali siaran Radio Suloh Tamiang, segera gayung bersambut dengan kebutuhan warga masyarakat dan kalangan stake holder yang haus akan kehadiran radio sebagai saluran hiburan dan informasi di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang. Apalagi di wilayah tersebut minim dari jangkauan siaran radio, terlebih pasca bencana banjir bandang.
“Hari ini, masih dalam keadaan darurat, kami menerima personil Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Aceh Tamiang untuk sosialisasi bahaya narkoba di radio,” ungkap Dedi kembali melalui pesan singkatnya pada Senin (11/5/2026) lalu.
Mengakhiri pesannya Dedi Hakim menyampaikan bahwa kebangkitan Radio Suloh Tamiang pasca luluh lantak terdampak banjir bandang Sumatera, karena warga masyarakat di daerah faktanya membutuhkan kehadiran siaran radio sebagai sarana hiburan dan informasi.
“Di daerah, radio tidak akan pernah mati,” pungkasnya.* (rit’z)
_rev1.jpg)


Facebook Comments