KEMBALI KE KAMPUNG ADAT, TERJEMAHAN TERBAIK OTSUS PAPUA

Keterangan Gambar : Bupati Jayapura Mathius Awoitauw (kiri) menunjukkan buku karyanya, Kembali Ke Kampung Adat, dalam presscon dan peluncuran buku tersebut di salah hotel di Sentani kemarin (5/1).* (foto: dok)


indonesiapersada.id – Jayapura: Papua, surga kecil yang jatuh ke bumi, kaya akan adat dan budaya. Namun dalam perkembangannya, praktek dan pola pembangunan disana saat ini memberikan efek samping membuat anak – anak Papua tercerabut dan terasing dari budayanya sendiri. Harusnya, pelaksanaan pembangunan di Papua, menggunakan pendekatan pembangunan budaya.

Mengutip release Dinas Kominfo Kab. Jayapura, pemikiran tersebut mengemuka dalam buku berjudul Kembali Ke Kampung Adat karya Bupati Jayapura Mathius Awoitauw. Buku setebal 180 halaman itu, dicetak penerbit Kepustakaan Populer Gramedia Jakarta dan diluncurkan kemarin (5/1) di Hotel Suni Garden Sentani Jayapura. Acara peluncuran ditandai dengan diskusi dan bedah buku dengan pembicara utama sang penulis sendiri.

“Pembangunan sumber daya manusia Papua, terasa ada yang hilang karena saya menemukan anak – anak Papua tercerabut dari akar budayanya sendiri. Melalui gagasan Kembali Ke Kampung Adat ini, kita membicarakan tentang bagaimana mengembalikan sesuatu yang hilang dari orang – orang Papua,” urai Mathius dalam paparannya.

Gagasan tersebut sekaligus merupakan bentuk Restorasi Pembangunan di Papua agar anak – anak tidak semakin terasing dari akar budayanya sendiri. Akar budaya adalah sumber nilai dalam tatanan kehidupan, jika diterapkan secara konsisten akan mampu menjawab tantangan kehidupan orang Papua dalam zaman modern saat ini.

Berdasarkan pengalamannya merintis Program Kampung Adat di Kabupaten Jayapura, Mathius mengatakan, masyarakat antusias karena menjawab kerinduan atas rasa yang seolah tidak diberi tempat dalam pembangunan. Konsep pembangunan yang saat ini berjalan di Papua adalah praktek penaklukan atas alam dan manusia.

Sedangkan dalam kacamata masyarakat adat, alam dan manusia adalah satu kesatuan yang utuh tak terpisahkan. Dalam budayanya, masyarakat Papua hidup menyatu dengan alam dan manusialah yang bertugas menjaga alam. Kearifan adat Papua mengajarkan tugas seorang Ondoafi atau Ondofolo memastikan alam yang memberi kehidupan terjaga dan terawat baik.

Kesatuan manusia dengan alam lingkungan relevan dengan masalah ekologi karena menyadarkan manusia hormat pada alam dan melestarikan. Prinsip ini tentu berlawanan dengan mentalitas teknologi pembangunan yang menguras sumber daya alam dan membahayakan kelestarian lingkungan hidup. Disinilah peran masyarakat adat luar biasa dalam menjaga keseimbangan alam dengan laju pembangunan.

Gagasan mengembangkan Kampung Adat bisa menjadi solusi untuk mengembalikan jati diri masyarakat adat di seluruh Papua. Budaya bisa menjadi jalan keluar dalam pengelolaan konflik dan mencegah agresi sosial akibat berbagai keluhan atas pembangunan Papua yang terakumulasi sekian puluh tahun. Budaya sekaligus memberi cukup ruang berkembang bagi penduduk asli Papua di tingkat akar rumput dan masyarakat madani.

Program Kampung Adat, menurut Mathius, sekaligus sebagai terjemahan terbaik filosofi kekhususan Otonomi Khusus Papua. Hal tersebut berdasarkan pengalamannya selama memimpin Kabupaten Jayapura. Pendekatan pembangunan politik dan pembangunan budaya erat relevansinya menjadikan Papua berdaya di masa depan. Kekayaan adat dan budaya yang dimiliki bisa menjadi jawaban sejati dan benar atas berbagai persoalan yang melilit masyarakat Papua.

Selain itu, meretas Program Kampung Adat juga mengajarkan dan membantu anak – anak menemukan jati diri atau identitas asli mereka sebagai generasi muda Papua. Menunjukkan jalan kepada mereka untuk pulang kembali ke akar.  Meskipun Mathius juga mengakui bahwa program tersebut bukanlah satu- satunya solusi, namun patut menjadi tawaran solusi di tengah pelik dan kompleknya persoalan Papua yang seakan tak pernah tuntas.

“Bahkan saya jauh merenung. Gagasan Kampung Adat yang berupaya mengembalikan identitas dan jati diri asli anak – anak Papua adalah jalan menuju kemerdekaan yang sesungguhnya. Karena hakekat merdeka sesungguhnya atas penemuan identitas asli, dan merdeka karena diakui harkat dan martabatnya. Merdeka karena mampu menggali dari dalam akar budaya sendiri segala solusi atas masalah yang selama ini dihadapi,” pungkas Mathius.* (rit’z)

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.